Meretas Belenggu Kegagalan

meretas-belenggu-kegagalanOleh: Andrias Harefa

Orang sukses tidak pernah menyerah terhadap kesulitan, selalu berusaha meretas setiap belenggu kegagalan.

Jika faktor penentu sukses itu adalah keluarga atau garis keturunan, maka orang ini seharusnya gagal total. Seandainya faktor penentu sukses adalah pendidikan tinggi, ia pun tidak berpeluang untuk berhasil. Lalu apa yang membuatnya berhasil kemudian?

Joe Girard lahir di Detroit, 1 November 1928. Kedua orangtuanya, yang berasal dari Sicilia, tidak mengenal pendidikan dan amat miskin. Tidak ada pekerjaan tetap yang dilakukan ayahnya untuk memastikan kelangsungan hidup mereka. Bahkan lebih parah lagi, ayahnya sangat “ringan tangan” terhadap anak-anaknya. Kehidupan yang berat telah merusak jiwanya. Ia sering memukuli anaknya, dan baru berhenti bila bagian tubuh si anak mengeluarkan darah atau lebam. Bagi sang ayah, ia adalah anak pembawa sial, kurang ajar, tak tahu untung, dan seterusnya. Minuman keras dan judi adalah tempat pelarian ayah yang malang ini.

Beruntung Joe mempunyai seorang ibu, yang sekalipun tak berpendidikan namun memiliki rasa kasih yang besar. Sehabis dipukuli dan dicaci maki ayahnya, anak malang ini selalu dihibur ibunya. Sambil membersihkan bekas luka akibat pukulan dengan air hangat, ibunya selalu membisikkan kata-kata pembangun semangat. “Jangan dengarkan kata-kata ayahmu, Nak. Kamu bukan anak kurang ajar. Kamu anak ibu yang pintar. Suatu hari kelak kamu akan berhasil dan dikenal orang,” ujar ibunya mengharapkan masa depan bocah kecil itu.

Ketika masih di Sekolah Dasar, anak ini mencoba meringankan beban orangtuanya dengan bekerja serabutan. Ia menjadi penyemir sepatu, menjajakan koran dijalanan, mencuci pakaian orang, atau buruh kontraktor. Ia juga pernah mencoba menjadi “bajingan cilik” yang kemudian tertangkap dan dimasukkan ke penjara anak-anak nakal.

Gagal menjadi “mafioso” kecil, ia kemudian mencoba mendapatkan pekerjaan yang halal. Sayangnya, karena tak punya pendidikan yang baik—karena drop out sekolah menengah, ia tak punya banyak pilihan. Rekornya tak tanggung-tanggung, dipecat dari lebih 40 pekerjaan karena masalah sikapnya yang buruk. Ketika diterima di Angkatan Darat Amerika, ia hanya mampu bertahan selama 97 hari, dan akhirnya dipecat juga.

Ia sering teringat kata-kata ayahnya. “Mungkin ayah benar. Aku ini pembawa sial, anak kurang ajar yang tak bisa bekerja dengan baik,” pikirnya meratapi nasib.

Lelaki berusia 35 tahun tanpa pekerjaan ini suatu hari mendengar istrinya berkata, “Joe, di rumah ini tidak ada makanan. Anak kita tak punya makanan untuk hari ini. Lakukanlah sesuatu.”

Waktu itu salju turun setebal lutut di luar rumah. Dibalut kekalutan dan rasa frustrasi bercampur rasa tanggung jawab sebagai kepala keluarga, ia keluar dari rumah dengan satu tekad bulat, “Aku tak akan kembali ke rumah hari ini tanpa membawa makanan.”

Tekad itu membawanya ke sebuah show room Chevrolet. Dan di malam hari ia berhasil membawa pulang makanan untuk keluarganya. Usianya 35 tahun dan kariernya sebagai wiraniaga otomotif baru dimulai. Masih mungkinkah ia berhasil?
Tahun pertama ia menjual 267 unit Chevrolet. Tahun berikutnya naik menjadi 307 unit. Lalu 343 unit pada tahun ketiga. Tahun keempat ia menjual 614 unit mobil. Dan sejak tahun 1966 itu namanya tercatat sebagai wiraniaga otomotif nomor satu dunia menurut Guinness Book of Records.

“Nubuat” ibunya menjadi kenyataan. Ia anak pintar yang dikenal orang. Semua kata-kata ayahnya ternyata salah. Tekadnya semakin bulat untuk membuktikan, “Aku bukan anak bodoh, bukan pembawa sial, bukan anak kurang ajar. Aku anak pintar dan dunia akan mengenal namaku seperti kata ibu.”

Prestasi sebagai wiraniaga nomor wahid itu dipertahankannya secara konsisten selama hampir 12 tahun. Penjualan tahunan terbanyak diraihnya tahun 1973 sebanyak 1.425 unit mobil dijualnya sendiri. Dalam satu bulan ia pernah menjual 174 unit mobil. Rekor penjualan harian terbanyak adalah 18 unit mobil. Selama 15 tahun berkarier (1963-1977) ia telah menjual 13.001 unit mobil, atau rata-rata menjual 6 unit mobil per hari (jumlah ini adalah target penjualan per bulan untuk wiraniaga otomotif di Indonesia sebelum krisis ekonomi 1997). Penghasilannya di atas 200.000 dolar Amerika per tahun, jumlah yang tidak sedikit pada waktu itu.

Ia akhirnya menerima berbagai penghargaan, di antaranya The Golden Plate Award dari American Academy of Achievement dan Dr. Norman Vincent Peale menominasikan dirinya untuk menerima Horatio Alger Award, penghargaan bagi orang Amerika yang terbukti berhasil melepaskan diri dari belenggu kemiskinan dan menjadi tokoh masyarakat.

Setelah menggantungkan “sales-kit” tahun 1977, ia kemudian dikenal sebagai pembicara dan penceramah motivasional. Dibantu Stanley H. Brown, Robert Casemore dan Robert L. Shook, ia menuliskan kisah-kisah suksesnya melalui buku How to Sell Anything to Anybody (1977), How to Sell Your-self (1979) dan How to Close Every Sales (1989). Ia juga menuturkan kiat-kiat suksesnya melalui kaset-kaset dan video.

Tahun 1992 Joe Girard berbicara dalam seminar wiraniaga di Hotel Hilton, Jakarta. Setelah itu ia diundang kembali sebagai pembicara utama dalam Achievers Congres di Indonesia tahun 1996. Menurut panitia pengundang, honor bicaranya US $ 2,000 per jam atau $ 10,000 per hari.

Orangtua miskin dan pengangguran, penjara anak-anak nakal, drop out dari sekolah, dipecat 40 kali lebih, dan usia yang tak muda lagi untuk memulai sebuah karier, semuanya tak mampu membelenggu Joe. Ia, mengutip judul buku Frank Bettger, meretas belenggu kegagalan dan meraih sukses dalam penjualan. Maukah kita juga melepaskan diri dari belenggu-belenggu kegagalan kita sendiri?

*) Andrias Harefa
Penulis 40 Buku Best-Seller. Pembicara dan Trainer Berpengalaman 22 Tahun

 

Views – 515

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *